Human Capital: Strategic Thinking

 Human Capital: Strategic Thinking

Menurut Stephanie K. Marrus, pengertian strategi adalah suatu proses penentuan rencana para pemimpin puncak yang berfokus pada tujuan jangka panjang organisasi, disertai penyusunan suatu cara atau upaya bagaimana agar tujuan tersebut dapat dicapai. Sedangkan, menurut Morrisey, strategi adalah proses untuk menentukan arah yang harus dituju oleh perusahaan agar misinya tercapai dan sebagai daya dorong yang akan membantu perusahaan dalam menentukan produk, jasa, dan pasarnya di masa depan. Yang paling umum dari definisi berfikir adalah berkembangnya ide dan konsep di dalam diri seseorang. Berpikir adalah suatu kegiatan mental yang melibatkan kerja otak. Walaupun tidak bisa dipisahkan dari aktivitas kerja otak, pikiran manusia lebih dari sekedar kerja organ tubuh yang disebut otak. Kegiatan berpikir juga melibatkan seluruh pribadi manusia dan juga melibatkan perasaan dan kehendak manusia.

Menurut pendekatan manajemen, pemikiran strategis melibatkan dua proses yang berbeda: perencanaan dan pemikiran. Perencanaan adalah melibatkan analisis masalah, melibatkan pembangunan sistem dan prosedur sedangkan pemikiran melibatkan sintesis – mendorong pemikiran yang intuitif, inovatif dan kreatif di semua tingkat organisas. Hal ini sebagai "memikirkan semua kemungkinan skenario dan strategi dengan cara kreatif yang relatif bebas dari batas-batas yang ada". Pemikiran strategis sebagai "cara pemecahan masalah-masalah strategis yang menggabungkan pendekatan rasional dan konvergen dengan proses berpikir kreatif dan berbeda". Bonn menunjukkan bahwa orientasi proses berfokus pada bagaimana para pemikir strategis memahami dan mengambil tindakan strategis dalam lingkungan yang sangat kompleks, ambigu dan kompetitif. Oleh karena itu, pemikiran strategis berkaitan dengan berpikir dalam cara baru untuk bersaing dalam lingkungan ambigu dan kompetitif. Dari ini tampaknya bukannya direncanakan, strategi muncul dari waktu ke waktu. Sementara, secara tradisional, strategi adalah tentang membangun posisi bertahan jangka panjang atau keunggulan kompetitif berkelanjutan," strategi hari ini harus fokus pada adaptasi dan perbaikan terus menerus.

Kemampuan untuk berpikir secara strategis memerlukan pengembangan dari konsep berpikir, kemampuan berpikir, gaya berpikir, dan teknik berpikir. Bahwa semakin besar jumlah total dari pemikiran strategis dan pemikir strategis dalam organisasi, lebih mudah dan efektif organisasi dapat merespon untuk mengambil keuntungan dari perubahan yang terjadi di lingkungan bisnis saat ini. Karakteristik umum dari pemikiran strategis yang disebutkan oleh sejumlah literatur adalah: visioner, kreatif, dan sintetis. Karakteristik lain yang disebutkan oleh beberapa literatur adalah analitis, konseptual, divergen, dan sistematis. Pemikiran strategis sebagai proses berpikir tentang sebuah organisasi dan bagaimana cara mengembangkan strategi yang meliputi visi, kreativitas, fleksibilitas, dan kewirausahaan. Pemikiran strategis sebagai kreatif, sintesis, dan intuitif. Pemikiran strategis sebagai sintetis, kreatif, dan divergen. Pemikiran strategis sebagai analitis, konseptual, dan visioner. Mereka juga menambahkan bahwa berpikir strategis membutuhkan pengetahuan dan keterampilan sintesis. Kajian literatur menemukan hanya empat studi khusus membahas tentang pemikiran strategis dikonsep bahwa pemikiran strategis meliputi lima unsur yaitu memiliki sistem perspektif, menjadi fokus, berpikir tepat waktu, menjadi hipotesis-driven, dan bertindak dengan cara yang cerdas oportunistik.

Peran pemikiran strategis sebagai mencari inovasi dan membayangkan masa depan yang baru dan sangat berbeda yang dapat menyebabkan sebuah perusahaan mendefinisikan kembali strategi inti dan industri nya. Atribut dari pemikiran strategis yang disampaikan dan  menambahkan pemikiran inovatif. Pemikiran strategis sebagai kompetensi inti dari suatu organisasi. Berpikir strategis sebagai cara untuk memecahkan masalah strategis, menggabungkan pendekatan strategis rasional dan konvergen dengan proses berpikir kreatif dan konvergen dan mengusulkan kerangka kerja konseptual pemikiran strategis yang terdiri dari pemikiran sistem, kreativitas, dan visi.

Pemikiran strategis penting bagi pengembangan strategi dan manajemen strategis, dan memberikan kontribusi untuk output perusahaan, dan profitabilitas. Hubungan antara strategi dan kinerja dikonfirmasi oleh studi kasus longitudinal pada ukuran kinerja bisnis dan berdampak pada strategi. Selain itu, perencanaan strategis di perusahaan-perusahaan kecil, menyimpulkan bahwa formalisasi dalam perencanaan strategis perusahaan berhubungan positif dengan pertumbuhan perusahaan. Baru-baru ini kajian literatur menemukan bahwa kompetensi strategis penting untuk manajemen strategis sementara belum ada literatur yang menyepakati apa sajakah kompetensi tersebut. Tiga teknik berpikir strategis ala Peter Drucker yaitu:

Teknik #1. Menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang dapat membangkitkan pilihan-pilihan kreatif. Drucker fokus kepada isu-isu status quo dengan dua pertanyaan yang dapat membuat manajemen langsung sadar dan berpikir bebas, yaitu:

1. Bisnis apa yang tidak boleh kita masuki? Pertanyaan ini mengimplikasikan bahwa rencana yang telah kita putuskan dapat saja menghasilkan sesuatu yang negatif sehingga perlu dikaji kembali secara hati-hati dan menyeluruh sebelum suatu rencana dijalankan.

2. Dengan pengetahuan yang ada saat ini, apakah kita akan memasuki bisnis itu sekarang? Pertanyaan ini akan membuat kita benar-benar mengenal bisnis yang dijalankan.

Pertanyaan-pertanyaan Drucker membantu manajer melepaskan fantasi-fantasi optimis mereka mengenai laba masa depan. Pertanyaan ini mendorong mereka untuk menghadapi kenyataan pahit. Anda tahu Anda tidak boleh ada dalam bisnis ini, sehingga selesaikan hambatan untuk keluar, dan keluar. Drucker menunjukkan bahwa model, paradigma, konsep analitik dan daftar tentang strategi mungkin membantu, tetapi tidak cukup. Pelajaran universal nya adalah: Apakah Anda mengajukan pertanyaan yang tepat? Sudahkah Anda masuk ke esensi dari masalah? Apakah Anda sudah membebaskan orang untuk menghadapi kenyataan dan berurusan dengan pilihan-pilihan strategis yang mungkin tidak menyenangkan?

Teknik #2. Membingkai dan menyederhanakannya untuk keperluan review dan pengaturan. Dalam teknik ini, intinya terletak pada “knowledge work”. Manajemen harus mulai memikirkan sumber daya manusia yang berpengetahuan tinggi, yang pada gilirannya akan membuat daya kreatifitas dan inovasi perusahaan meningkat. Hal ini akan mengantarkan perusahaan dalam mencapai manfaat kompetitif. Manajemen belajar bahwa keberhasilan strategis bergantung pada minimalnya arahan otoriter, sebaliknya dan mendorong berbagi pengetahuan dan kreativitas. Konsep sederhana Drucker "pekerjaan pengetahuan" menerangi pemikiran strategis manajemen dan meningkatkan kesadaran bagi pekerja pengetahuan untuk mengkontribusikan kreatifitasnya terhadap strategi kompetitif perusahaan saat ini dan masa depan.

Teknik #3. Mempertimbangkan asumsi alternative dan menyelidiki implikasinya. Untuk berpikir secara strategis mengenai masa depan perusahaan, Drucker mengharuskan agar perusahaan belajar untuk mengolah perbedaan pendapat dan mengelolanya secara konstruktif.  Di beberapa perusahaan, asumsi atau premis yang mendasari operasi sehari-hari adalah: "Kami menjual apa yang kita buat." Dalam jangka pendek, itulah yang harus dilakukan. Tapi seringkali manajemen hanya melanggengkan premis berikut ini: "Di masa depan, bagaimana kita terus menjual apa yang kita buat?" Meskipun ini adalah pertanyaan yang berguna, namun akan membatasi manajemen dalam memandang kondisi pasar yaitu pandangan manager yang menganggap "Pelanggan ada untuk membeli apa yang kita buat".

Pemikiran Drucker yang lebih strategis mendorong para pemimpin untuk menyelidiki dan mempertanyakan premis lain, misalnya: "Pelanggan menentukan bisnis." Kemudian ia probe, mengajukan serangkaian pertanyaan, "Siapa pelanggannya? Di mana pelanggan berada? Apa keinginan pelanggan? Bagaimana kita menyediakan apa yang pelanggan inginkan?".


Rule of Thumb

Rules of thumb merupakan alat yang baik untuk para ahli strategi dan pemimpin. Robert West menyampaikan bahwa ada tiga cara dimana “rule of Thumb” dapat digunakan dalam berpikir strategis, yaitu .

  1. Tidak berpikir untuk ikut-ikutan dan mengandalkan perubahan bertahap

  2. Persempit strategi-strategi alternatif menjadi daftar pendek untuk analisis yang lebih detail 

  3. Membawa semua anggota team di jalur yang sama

Prinsip-prinsip dalam menggunakan Rules of Thumb antara lain:

  1. Aturan yang baik melekat pada tujuan yang spesifik

  2. Aturan yang baik mengakar pada proses bisnis yang tepat

  3. Manajer yang baik menargetkan aturan lama


Apa yang Manajer Pikirkan tentang Strategi?

Membangun pemikiran strategis menjadi kompetensi inti (core competency). Bonn Ingrid memlulai penelitiannya mengenai pemikiran strategis pada tahun 1993 dengan mewawancarai 35 eksekutif senior untuk sebuah penelitian longitudinal mengenai perubahan perencanaan strategis dan manajemen strategis dalam organisasi-organisasi besar antara tahun 1982 dan 1993. Para eksekutif senior inilah yang bertanggung jawab dalam perencanaan strategis, manajemen strategis atau pengembangan di 35 dari 100 perusahaan manufaktur terbesar di Australia.

Masalah utama yang diidentifikasi oleh mayoritas eksekutif senior adalah pemikiran strategis. Menariknya, pemikiran strategis menjadi masalah baik pada perusahaan yang memiliki sistem perencanaan strategis formal atau maupun tidak. Sebagai contoh, salah satu eksekutif senior dari perusahaan dengan sistem perencanaan strategis formal menyatakan: eksekutif senior kami cenderung terbawa oleh masalah-masalah detil dan kehilangan perspektif strategis mereka.

Memahami pemikiran strategis memerlukan dua tingkat pendekatan yang menyelidiki karakteristik seorang pemikir strategis individual maupun dinamika dan proses yang terjadi dalam konteks organisasi di mana individu beroperasi. Misalnya, untuk mendapatkan gambaran yang akurat dari efek yang berbeda gaya kepemimpinan pada pemikiran strategis, kita dapat melihat dampaknya terhadap manajer individu dan dalam perjalanan mereka mempengaruhi iklim organisasi yang lebih luas, budaya dan struktur.


Pemikiran strategis pada Level Individu

Pemikiran strategis pada level individu terdiri dari tiga komponen utama, yaitu:

  1. Pemahaman menyeluruh terhadap organisasi dan lingkungannya

  2. Kreatifitas

  3. Visi untuk masa depan organisasi


Pemikiran strategis pada Level Organisasi

Dalam level ini, organisasi memberikan konteks di mana pemikiran strategis individu dapat terjadi. Organisasi perlu membuat struktur, proses dan sistem yang:

  1. Mendorong adanya dialog strategis di level atas organisasi. Dialog strategis kolektif jika dilakukan dengan cara yang konstruktif adalah lebih bermanfaat karena potensi sinergis dari beberapa pikiran menghasilkan pendalaman yang lebih dibandingkan dari satu pikiran. Dialog ini memungkinkan anggota tim untuk mendapatkan pemahaman yang lebih kaya dan mengarahkan ke kejelasan dan wawasan baru yang tidak dapat dicapai secara individual. Sebagaimana dikatakan Eisenhardt dkk. (1997): komunikasi seperti ini akan mendorong eksekutif untuk mengembangkan dan mengartikulasikan argumen lebih efektif dan jelas dan disampaikan kepada orang lain. Dengan cara ini, interaksi menciptakan proses penemuan sosial dimana komunikasi yang berkelanjutan akan membangun pemahaman terhadap informasi dan preferensi kunci yang semakin kompleks dan realistis.

  2. Bisa mendorong pengambilan manfaat dari kecerdikan dan kreatifitas karyawan. Selain membina dialog strategis, organisasi harus menciptakan lingkungan di mana semua karyawan didorong untuk berpartisipasi dalam pengembangan ide-ide dan strategi inovatif. Perusahaan visioner memiliki orientasi organisasi yang lebih kuat daripada perusahaan lain. Manajer senior di perusahaan visioner sangat menekankan pada perancangan struktur organisasi, proses dan mekanisme yang merangsang perbaikan dan perubahan. Para eksekutif di perusahaan visioner merancang konteks di mana karyawan dapat berkontribusi untuk visi organisasi dan mereka menciptakan budaya yang kondusif untuk kreativitas dan inovasi.

Tantangan bagi manajer senior adalah untuk merancang dan membangun lingkungan kerja di mana setiap orang didorong untuk mengeksplorasi ide-ide baru dan membuat perbaikan dan inovasi. Manajer senior yang percaya akan pentingnya kreativitas seluruh organisasia akan memastikan bahwa kreativitas menjadi bagian dari kepribadian organisasi. Thomas J. Watson, Jr (1963), mantan kepala eksekutif IBM, berpendapat: "Saya percaya perbedaan yang nyata antara keberhasilan dan kegagalan dalam sebuah perusahaan seringkali dapat ditelusuri dari pertanyaan tentang seberapa baik organisasi memunculkan energi dan bakat yang besar orang-orangnya. Praktik-praktik di bawah ini dapat memunculkan motivasi intrinsik:

  1. Karyawan diberi tugas-tugas yang cocok dengan kemampuan dan keahliannya.

  2. Memberikan otonomi kepada karyawan untuk menyelesaikan target tugasya.

  3. Menyediakan sumber daya yang dibutuhkan.

  4. Bentuk tim kerja yang saling mendukung.

  5. Dorong supervisor untuk menghargai bawahan.

  6. Menciptakan iklim di mana seluruh organisasi mendukung upaya kreatif.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Capital EduWork

Knowledge-Intensive Industries: Transformational and Transactional Leadership and Entrepreneurial Behavior of Employees

Strategy as a Shared Framework in the Minds of Managers